PPS-024
Benda #: SCP-024-CAK PPS-024
Kelas Objek: Keter
Prosedur Penahanan Khusus: Semua subjek ditahan di dalam kontainer baja dan dilarang berinteraksi kecuali memiliki izin oleh direktur situs.
Deskripsi: Doge yang membuatmu rasis dan retardasi dalam kecerdasan mental. Perubahan menjadi Shiba Inu terjadi dalam kasus yang sangat langka. Perubahan langka ini semakin lama semakin sering seiring berjalannya waktu. Korban yang telah menjadi Shiba Inu sdmakin banyak dan mengeluarkan diri dari tahanan.
Addendum.024.1: Berbagai artefak kuno yang menunjukkan pengaruh PPS-024 mulai dari Hitler sampai Mesopotamia. Penemuan ini memulai pencarian artefak lainnya yang tersebar di seluruh dunia.
Addendum.024.2: Penemuan lebih banyak artefak yang menunjukkan keberadaan Doge sejak zaman pra-sejarah. Artefak memberi petunjuk akan adanya grup kultus yang memuja Doge sebagai sosok suci. Diketahui pula dua sosok dewa lain, yang berupa Cheems dan Walter. Ketiga sosok pujaan ini membentuk trinitas yang disebut sebagai Trimorons. Grup kultus ini menyebut dirinya sebagai Children of the Retards. Grup ini memiliki tujuan utama yaitu mengubah semua manusia menjadi Shiba Inu.
Addendum.024.3: Anggota Children of the Retards telah ditemukan dan semua anggotanya ditahan oleh Yayasan. Salah satu anggota menyebutkan sub-grup lainnya yang tersebar di berbagai daerah. Mereka memberi peringatan bahwasanya mereka akan menyebarkan ajaran mereka dan Doge akan bangkit sebagai juru selamat. Yayasan memulai pencarian untuk penangkapan anggota grup tersebut.
Addendum.024.4: Ajaran dari Children of the Retards telah tersebar ke seluruh dunia. Semua Shiba Inu telah kabur dari penahanan Yayasan. Doge pun kabur dan bangkit sebagai juru selamat bagi mereka. Seluruh populasi Bumi mengalami perubahan menjadi rasis, retardasi mental, dan Shiba Inu. Yayasan terpaksa untuk menggunakan SCP-055 dan SCP-579 untuk memulai ulang dunia.
SCP-025-CAK
Item #: SCP-025-CAK
Object Class: Safe
Special Containment Procedures: Every instances of SCP-025-CAK is located in Site-17. SCP-025-CAK-1 is prohibited to masturbate and engage in sexual intercourse without discretion. Any created weapons must be quarantined for approximately 6 hours.
Description: SCP-025-CAK refers to two instances of anomaly: SCP-025-CAK-1 and SCP-025-CAK-2. The first anomaly is a 25 year old man of average build, refering to himself as “Eminiss the Conjurer”. When ejaculating, individual of interest is capable of reforming his semen into any type of sword. This ability, however, is limited to only 1 item per day. Individual shows complete control over this ability.
Created swords are classified as SCP-025-CAK-2. These swords in question are capable of rending any materials and turning them into cake. Research shows there are no limit on type of material SCP-025-CAK-2 can rend. This includes organic materials, such as living tissues. Cakes created are edible and provide beneficial nutrition for animals, including human. Swords evaporate approximately 6 hours subsequent to creation.
Addendum-025-CAK.1: SCP-025-CAK-1 has been recorded to manipulate male personnels with his semen. This manipulation results in victims capable of manipulating their semen. SCP-025-CAK-1 is now reclassified as male individuals capable of manipulating their own semen.
How this manipulation went under detection is under research. It is speculated that original anomaly had rigged the security system with his ability. All instances of SCP-025-CAK-1 had been relocated and recontained in Heavy Humanoid Containment Cell Level-05 in Site 17.
"Have you heard of the cum swords?" is the WiFi password.
SCP-026-CAK
Item #: SCP-026-CAK
Object Class: Safe
Special Containment Procedures: Semua poster anomali yang ada disimpan di loker aman dalam kantor Letnan Bio. Loker dikunci dengan kombinasi yang diketahui oleh Letnan Bio, B. Wave, dan Jalu. Kombinasi kode hanya dapat diberikan kepada personil yang dipercaya Letnan Bio. Poster dapat diminta kepada Letnan Bio atau personil yang bersangkutan. Penggunaan poster diizinkan untuk siapapun yang memilikinya.
Description: SCP-026-CAK adalah designasi untuk sekumpulan poster demotivasional. Poster ini mengandung tulisan yang bermaksud untuk mendemotivasikan para pembaca. Perbedaan anomali ini dengan poster biasanya adalah setiap hari kontennya berubah. Perubahan ini terjadi selama seminggu dan berulang lagi pada minggu yang baru. Konten poster yang berubah semakin hari menjadi semakin tidak jelas dari konten sebelumnya. Perubahan ini mengakibatkan konten yang surreal dalam poster.
Meskipun demikian, poster ini tidak menujukkan bahaya bagi pembaca. SCP-026-CAK tidak diklasifikasikan sebagai bahaya memetik. Karena sifat anomalinya ini, SCP-026-CAK dianggap aman dan dapat digunakan oleh siapa pun.
Addendum.026.1: Telah diketahui bahwa tumpukan poster yang disimpan dalam loker Letnan Bio berlipat ganda setiap minggu. Tumpukan poster ini tidak berlipat ganda jika disimpan tempat yang lain. Uniknya, poster dari loker Letnan Bio-lah yang menujukkan perubahan setiap minggu. Poster yang disimpan di tempat lain tidak menunjukkan perubahan yang diamati sebagai SCP-026-CAK. Pengklasifikasian ulang SCP-026-CAK sedang dipertimbangkan.
KISAH ANTARA VECTOR DAN DIPPER
SEBUAH PERJALANAN CINTA MENUJU KEGILAAN
Vector terbangun di atas reruntuhan. Sinar matahari yang terik menyinari topengnya yang ikonis itu. Ia segera berdiri dari reruntuhan itu. Rasa sakit memenuhi sekujur tubuhnya tubuhnya. Ia terjatuh untuk pertama kalinya. Dengan tenaga yang ada, Vector berusaha untuk berdiri. Perlu beberapa waktu baginya untuk memulihkan pikirannya kembali. Akhirnya Ia sadar bahwa ruang yang Ia tempati sudah hancur. Yang Ia lihat hanyalah reruntuhan di mana-mana. Terdengar suara ricikan air dan api yang membakar, tapi tidak satu pun suara makhluk hidup. Setelah dilihatnya lagi, Vector menyadari bahwa Ia sedang berada di ruang penahanan suatu anomali. Tidak jelas SCP itu apa, tetapi sangat jelas bahwa tempat itu pernah menahanan SCP yang sangat berbahaya.
Terlihat sebuah pintu otomatis yang sedikit terbuka. Vector menekan tombol di sebelahnya untuk membukanya, tetapi tidak terjadi apa-apa. Oleh karena itu, Ia terpaksa harus membukanya secara manual. Kedua tangannya memegang bagian bawah pintu itu. Dengan sekuat tenaga, Vector mengangkat pintu besi berwarna hitam itu. Ternyata pintu itu cukup ringan untuk dibuka. Ia heran jika pintu itu ringan karena sudah rusak atau keamanan penahanan ini sangatlah payah. Apapun itu, Vector segera melupakannya dan keluar dari ruangan itu.
Pemandangan lorong empat arah yang hancur lebur nampak di depannya. Ada suatu peneliti terjepit di antara reruntuhan berteriak kesakitan. Dia berusaha untuk membebaskan dirinya, tetapi tanpa hasil. Peneliti itu bernama Robert. Ia memohon kepada Vector untuk mendekatinya. Vector pun menuruti permintaannya. Robert berkata, “Aku menyesal sudah meninggalkan keluarganya dan tidak sempat bertemu dengan mereka. Aku juga menyesal karena belum berbicara dengan orang tuanya selama 10 tahun ini.” Karena sudah putus asa, Robert meminta Vector untuk meremukkan kepalanya dengan batuan yang ada. Vector terkejut akan permintaannya ini. “Apa maksudmu kau memintaku membunuhmu?” ungkap Vector. Robert memohon dengan sangat, tetapi Vector tidak mau melakukannya. “Kumohon, aku ingin membersihkan diriku dari dosa. Lagipula sudah tidak ada harapan lagi. Antara aku mati sendirian dengan perlahan atau berdua secara cepat.” Vector tercengang mendegar perkataan Robert. Vector berpikir bahwa memang sudah tidak ada harapan bagi Robert. Sebelum melakukan permintaannya, Vector ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Mengapa semuanya hancur? Di mana semua orang?” tanya Vector. Pria itu berkata, “Aku tidak tahu.” Tidak mendapat jawaban yang diinginkan, Vector menuruti permintaan pria tersebut. Ia mengambil batu yang ada di belokan dan membawanya ke Robert. Pria itu mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Dengan memejamkan mata, Vector menjatuhkan batu itu tepat di kepala Robert. Darah dan otak memercik di celana Vector. Pria itu telah mati. Dibunuh oleh Vector. Vector ingin muntah, tetapi ingat bahwa Ia sedang memakai topeng. Demikianlah pembunuhan pertana Vector selama masa hidupnya, dan awal mula perjalanannya menuju kegilaan.
Pria bertopeng itu segera kabur dari perempatan itu. Ia menendang sebuah pintu rusak di depannya. Pintu itu terjatuh dan menunjukkan suatu lorong. Lorong itu disinari oleh satu lampu. Pelita itu menyinari suatu mayat penjaga yang tertusuk tongkat besi. Vector kaget melihat tubuh penjaga tanpa nyawa tersebut. Ia berjalan cepat-cepat dengan berusaha untuk tidak melihat mayat itu. Pintu di akhir lorong dibukanya, hanya untuk menampilkan ruangan dipenuhi mayat. Ruangan itu terbakar beserta isinya. Vector hanya bisa berteriak mengamati ruangan tersebut. Dengan segera Ia berlari menuju pintu di arah sebaliknya. Pintu itu terbuka dan menampilkan berbagai mayat yang telah meleleh. Cairan organik yang menampilkan wajah berteriak akan menghantu Vector seumur hidup. Vector segera menutup pintu dan terjatuh untuk kedua kalinya. Vector menangis, menangis untuk pertama kalinya. Baru kali ini Ia merasa sama sekali tidak berdaya.
Perlu beberapa saat baginya untuk menyebrang lorong itu. Dengan perlahan, Ia melangkahkan kakinya dan mengupayakan agar tidak menginjak cairan yang dulunya tubuh manusia. Jendela besar di atas lorong menyinari mayat-mayat itu. Ada rasa untuk melihat cairan daging bercampur cairan tubuh lainnya yang hampir memenugi seluruh lorong. Usahanya ternyata berhasil. Ia berhasil melewati lorong mengerikan itu. Vector merasa lega dan membukan pintu di ujung lorong itu. Pintu itu membuka dan menunjukkan ruangan kafe yang kosong. Tentu saja tidak terlalu kosong, sebab banyak mayat yang memenuhi bangku tempat makan. Vector menghela napasnya. Perutnya keroncongan. Ia merasa sangat lapar. Dengan lekas Ia berlari ke dapur untuk melihat makanan yang ada. Ternyata tidak ada makanan di dalam. Yang ada hanyalah pria obesitas yang duduk di depan kulkas. Pria itu memiliki wajah menjijikkan; matanya menonjol dan mulutnya terbuka lebar. Vector menutup pintu dapur dengan wajah tercengang. Ia memblokir pintu dapur dengan semua barang yang ada. Akhrinya Ia terjebak di kafe tanpa makanan yang ada. Namun demikian, Vector masih memiliki suatu opsi. Pilihan itu adalah memakan mayat yang ada. Memang terdengar gila, tetapi itu satu-satunya pilihan yang Ia miliki. Dengan putus asa, Vector menarik suatu mayat personil Class-D berkode D-7294. Vector mengambil parang dan memotong kaki kelinci percobaan itu. Ia memotong bagian paha karena bagian itu yang banyak lemaknya. Dimasaknya paha itu dalam pemanggangan. Selesai dipanggang, Vector membuka tempat pemanggang dan mengambil paha yang terlihat lezat itu. Sebelum memakannya, Vector merenungkan pilihannya itu. “Apakah aku sudah gila?” gumamnya. Ia memutuskan untuk membatalkannya dan membawa paha itu ke tong sampah. Vector menghela napas untuk kedua kalinya. Ketika Ia membuka tong sampah, ternyata ada suatu bento yang masih segar. Alangkah beruntungnya Vector. Ia segera membuang paha itu dan memakan bento tersebut dengan lahap.
Selesai makan, Vector melanjutkan perjalanannya. Ia berkeliling di daerah yang bisa dimasukinya. Lorong, interseksi, ruangan, penahanan, gudang, semuanya hancur dan kosong. Reruntuhan menghiasi semua pojok daerah, tetapi tidak ada satu pun makhluk hidup yang hadir. Bahkan jika ada sesuatu yang menyerupai makhluk hidup, mereka hadir antara sebagai gambar, patung, atau sudah mati. Ia menyahut nama-nama orang yang Ia ketahui. “Dipper! Zhias! Celine! Di mana kalian?” Vector berharap kosong akan suatu jawaban. Tanpa disadari, Vector sudah berada di ruangan istirahat. Ada sebuah televisi yang memainkan suatu siaran darurat. Siaran EAS dari Yayasan dan pemerintah nasional. Siaran itu menampilkan kata-kata:
EMERGENCY ALERT SYSTEM
Foundation and Civil Authoritites
Issued a
Major catastrophe warning
Pesan itu diikuti dengan bunyi alarm EAS biasanya. Televisi menyiarkan pesan berikutnya:
To ensure your safety
Proceed with the following instructions
Alarm EAS berhenti secara tiba-tiba. Bunyi seram itu diganti dengan suara terdistorsi yang mengerikan. Pesan selanjutnya adalah:
Close any doors and windows
Of your home
Bunyi yang mengikutinya makin terdistorsi. Televisi melanjutkan siaran daruratnya yang tertulis:
Switch off any light sources
Bunyi itu lebih terdistorsi lagi. Entah televisi itu rusak atau ada yang salab dengan siarannya. Pesan selanjutnya adalah:
Do not look to the outside
Remain silent at all time
Pada bagian ini, bunyi tersebut telah berubah menjadi gemuruh kecil yang tidak enak di dengar. Pesan berikutnya:
Do not attempt to respond
To any sound outside
Until all the clear is given
Do not attempt to investigate
Any light source outside your home
Kali ini siaran terdistorsi. Siaran berubah dari warna hitam-putih menjadi merah-hitam. Suara berubah menjadi teriakan yang mengerikan.
Do not attempt to
Investigate any unidentified
Figure that you see
Do not look above you
Remain calm at all times
Siaran kembali menjadi normal dan suara menjadi gemuruh berat kembali.
Do not attempt to search
Any missing family members
If any of your family
Member being hostile or aggressive
Terminate them immediately.
Siaran tersebut berhenti. Televisi mati seketika. Seluruh isi ruangan istirahat menjadi sunyi. Vector menatap layar televisi dengan kosong. Ia membantingkan dirinya ke lantai. Ia akhirnya mengetahui apa yang terjadi. Entah bahaya tersebut sudah berakhir atau masih berlangsung. Meskipun tidak kapan terjadinya, Vector sudah puas dengan jawaban tersebut. Ia meringkup dalam posisi janin, memikirkan apa yang telah terjadi pada dunia ini. Ya, sebuah penerobosan penahanan skala besar oleh berbagai SCP. Semuanya telah mati. Tidak ada harapan lagi. Begitulah pikir Vector. Ia berteriak atas penerangan ini. Akhirnya, kewarasan Vector telah hancur. Ia telah menjadi gila. Hal yang ditakuti semua orang telah terjadi.
Vector berlari keluar dengan berterika histeris. Semua lorong Ia lewati. Ia tidak peduli dengan mayat yang tergeletak di jalanannya lagi. Entah mereka terbakar atau meleleh, Vector sudah tidak cukup waras untuk memedulikan mereka. Ia berlari dan terus berlari. Sampai akhirnya Ia kelelahan dan berhenti karena jalannya terhamabt. Sebuah reruntuhan besar menutupi pintu menuju ruangan selanjutnya. Dengan kesal Vector menendang dan memukul reruntuhan itu. Ia bahkan berusaha mneggali reruntuhan tersebut, tetapi sia-sia. Ia marah besar. Berteriak bagaikan setan yang baru keluar dari neraka. Ia jatuh untuk ketiga kalinya dan bergerak tak karuan di lantai; memukul lantai dan menendang dinding. Memang, sudah tidak ada harapan bagi Vector untuk bertahan hidup.
Namun demikian, ternyata ada sebuah cahaya di dalam kegelapan. Suatu mayat terungkap oleh cahaya matahari. Bagaikan cahaya dari surga, menyelubungi Tuhan yang turun ke Bumi. Mayat itu adalah Dipper Jones. Entah kenapa Ia berupa seorang wanita. Vector melihatnya bagaikan menenmukan sumber mata air di tengah gurun pasir. Ia berteriak dengan senang. Malaikat pelindung telah hadir baginya. Dengan hormat, Ia mengangkat tubuh Dipper Jones yang tak bernyawa itu. Ia memeluk mayat tersebut dengan sungguh. Vector akhirnya menemukan cinta hidupnya. Sebuah mercusuar di tengah badai laut.
Ia menggendong mayat Dipper Jones yang anggun itu bersamanya. Vector berjalan ke pintu lain untuk mencari jalan keluar. Di tengah reruntuhan Situs ini, memang sulit mencari jalan keluar. Tetapi dengan ditemani oleh Dipper, Vector menjadi percaya diri bahwa ada suatu jalan keluar. Ia melewati berbagai reruntuhan dan mayat. Selama perjalanannya ini, Vector merasakan cinta dan belas kasih terhadap Dipper. Memegang Dipper terus-menerus membuat Vector mengembangkan rasa cinta terhadapnya. Ia merayu Dipper dan membayangkan balasannya. Tentu saja Ia membuat-buat balasan tersebut. Memang aneh bahwa Dipper yang sudah mati bisa menjadi penolong dan pasangan cinta bagi Vector. Tapi begitulah keadaannya. Kewarasan Vector sudah runtuh. Tidak ada lagi yang dapat mengatakan sebaliknya kepada orang yang gila sepertinya. Ia sudah menjadikan mayat Dipper sebagai kekasih barunya.
Setelah beberapa lorong, Vector menemukan suatu denah. Denah itu merupakan S-NAV untuk Situs di mana Ia berada. Melohat denah ini, timbul suatu harapan bagi Vector. Ditelitinya denah itu untuk mencari jalan ke permukaan. Denah menunjukkan bahwa lift ke permukaan bisa diakses melalui bagian lain dari Situs tersebut. Untuk memasuki bagian itu, Vector memiliki dua pilihan. Pertama, dia bisa melewati ruang penyimpanan yang kurang efisien. Kedua, dia bisa melewati lorong akses ke sub-situs yang lebih cepat. Dengan membawa denah, Vector mencari lorong akses ini. Perlu sedikit perjuangan untuk mencapai lorong ini mengongat keadaan tempat yang sudah hancur. Ditambah Ia harus menggendong mayat Dipper kekasihnya itu. Sesampainya di lorong itu, alangkah malang nasib Vector ketika mengetahui lorong itu sudah ditutupi oleh reruntuhan. Vector merasa sangat kesal karena jalan terbaiknya tidak visa digunakan. Terpaksa Ia harus berjalan melalui ruang penyimpanan.
Bergeraklah Vector ke ruang penyimpanan. Kebetulan ruang penyimpanan berada di zona penahanan berat, yang menyimpan berbagai SCP kelas Euclid dan Keter. Tentunya Ia tahu bahwa itu berarti SCP tersebut hanya sulit ditahan dan bukan berarti sangat berbahaya. Namun demikian, tidak semua SCP kelas demikian tidak selalu tak berbahaya. Ada banyak SCP kelas tersebut yang menunjukkan bahaya bagi semua orang. Vector hanya bisa berharap bahwa tidak ada SCP yang kabur di zona penahanan berat. Ia teringat akan pira obesitas di kafe itu. Mengingatnya membuat Vector menggerenyet. Sambil berpikir demikian, Vector sampai di checkpoint zona penahanan.
Di checkpoint, Vector menggapai sakunya untuk mencari kunci yang diberikan Robert kepadanya. Kunci itu menunjukkan akses Level-5. Digunakannya kartu itu ke pembaca kartu untuk membuka pintu akses. Pintu itu terbuka ditemani dengan suara alarm. Vector melewati pintu itu bersama dengan Dipper. Pintu itu menutup di belakangnya. Menatap ke pintu masuk zona penahanan berat, terasa suatu perasaan yang mencekam. Rasanya seperti ada yang menunggu di balik pintu. Vector mengulur waktunya sebelum melanjutkan perjalanan. Ia mengumpulkan keberanian sebelum memasuki tempat mengerikan itu. Setelah beberapa saat, Ia akhirnya berjalan kembali. Tubuh Dipper dipegangnya erat-erat. Dibukanya pintu masuk ke zona penahanan berat. Tidak ada apa-apa di balik pintu. Vector menghela napas dengan senang.
Berjalanlah Vector di zona penahanan berat. Setelah diteliti lagi, Vector baru sadar bahwa Ia tidak perlu lewat ruang penyimpanan. Ia bisa saja lewat zona penahanan berat jika Ia mau. Namun Ia tetap memilih lewat ruang penyimpanan karena takut akan SCP berbahaya yang berkeliling di zona itu. Anehnya, zona berat terlihat lebih bersih dan rapi dari zona ringan. Tentu ada beberapa yang runtuh, tetapi dibandingkan dengan daerah sebelumnya, tempat ini terlihat kokoh. Listrik bekerja dengan baik di sini. Sepertinya Yayasan memang memiliki penahanan yang bagus, pikir Vector.
Vector melihat suatu ruangan sekuriti. Ia merasa bahwa Ia bisa istirahat sebentar di sana. Berjalan di semua lorong dalam area berukuran luas sambil menggendong wanita dengan berat 60 kg memang melelahkan. Ia berjalan menuju ruang itu. Sebelum Ia sempat membuka pintu itu, Ia mendegar suara tawa. Suara itu terdengar berasal dari dua orang. Akhirnya, seseorang yang selamat! pikir Vector. Dibantingnya pintu itu karena terlalu senang. Ternyata, suara itu bukan dari suara manusia. Yang Ia lihat hanyalah dua kadal merah yang sedang memakan seorang penjaga. Ya, yang membuat suara tersebut adalah SCP-939. Mereka bisa menirukan suara yang dibuat oleh korbannya. Hal yang ditakuti Vector tepat ada dihadapannya. Kedua makhluk itu menoleh ke Vector. Salah satu dari mereka mengatakan, "Siapa itu?" Nampaknya itulah kata terakhir dari penjaga yang malang itu. Vector menutup kembali pintu ruangan dan berlari secepat mungkin. Selagi Ia berlari, terfengar suara pintu yang diterobos dan kaca yang dipecahkan. Kedua SCP-939 yang kabur mengejar Vector. Ini membuat Vector berlari semakin kuat. Meskipun menggendong tubuh Dipper, Vector dapat berlari tanpa lelah. Ini berkat modifikasi genetis pada tubuhnya yang Ia dapatkan sebagai O5. Namun karena Ia sudah berjalan terlalu lama, Ia cukup lelah. Berlari membuat Ia semakin lelah. Ia tahu bahwa Ia telah memodifikasi dirinya juga dengan anomali untuk umur yang semakin panjang. Sayangnya, Ia belum menggunakan anomali yang dapat membuat Ia selamat dari serangan dan kecelakaan maut. Mengingat Ia sedang dikejar dua makhluk yang menjadi pembawa ajalnya, Vector lupa bahwa Ia lelah dan berlari semakin kencang. Yang ada dipikirannya hanyalah berlari demi keselamatannya dan keselamatan Dipper.
Selagi Ia berlari, Ia bertemu dengan suatu gerbang Tesla di depannya. Ini dia, gerbang keselamatan bagi dirinya dan kekasihnya. Gerbang ini memiliki sensor yang mengaktifkan petir dalam gerbang itu. Memang gerbang ini sepertinya kurang efisien dan berbahaya serta boros listrik, tetapi setidaknya berguna untuk saat yang menegangkan ini. Vector merasa lega karena dapat berhenti dari kejaran makhluk-makhluk itu. Perlahan Ia mendekati gerbang itu. Mendengar suara alarm dan petir, Ia cepat-cepat mundur dari gerbang itu. "Zap!" Itulah suara yang dikeluarkan dari petir gerbang Tesla. Petir itu cukup untuk memanggang satu orang dewasa yang sehat. Setelah petir itu berhenti, Vector cepat-cepat melewati gerbang yang sedang mengisi ulang aliran listriknya kembali. Vector duduk agak jauh dari gerbang. Ia melihat pintu di ujung lorong. Terdengar suara derap kaki SCP-939 yang berlarian mengejar Vector. Pintu itu dihancurkan dengan mudah oleh kedua makhluk itu. Tanpa pikir panjang, keduanya berlari menuju Vector. Alangkah malang nasib mereka yang tidak mengerti akan gerbang Tesla. Petir membakar kedua makhluk buas itu. Seketika mereka mati di tempat. Vector berteriak dan tertawa dalam kemenangan. Ia mencium Dipper di bibirnya karena telah menang dalam kejar-kejaran maut ini.
Melanjutkan perjalanannya, Vector melihat suatu mayat seorang peneliti. Ditelitinya mayat jmitu dengan baik. Peneliti itu memakai suatu kalung. Kalung dengan permata merah di tengahnya. Ia merasa familiar akan kalung ini. Dilihatnya kartu nama peneliti itu. Tertulis nama "Dr. Jack Bright" di atas kartu nama berwarna hitam dan berlogo Yayasan SCP. Benar saja, ini adalah mayat Dr. Bright, si orang gila itu. Dipikirnya Vector untuk mengambil kalung itu dan memakaikannya pada Dipper. Namun Ia ingat bahwa kalung itu adalah SCP-963 dan akan mengubah orang yang memakainya menjadi Dr. Bright sendiri. Vector mengurungkan niatnya dan pergi meninggalkan mayat Dr. Bright. Ia lebih baik mati dimakan SCP-939 daripada kehilangan Dipper dan harus bersama orang itu.
Lift yang dicari Vector akhirnya Ia temu. Lift yang akan membawanya ke ruang penyimpanan. Di denahnya tertulis bahwa ruang penyimpanan merupakan jalan pintas dari zona berat bagian situs inj ke bagian situs lainnya. Dibukanya pintu lift dan masuklah Ia bersama Dipper. Di dalam lift, terlihat tombol untuk ke atas sudah rusak. Vector menelan ludahnya. Jika Ia lewat sini, Ia tidak akan bisa kembali lewat ini. Vector memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu. Selagi Ia berpikir, terdengar suara sesuatu dari sampingnya. Suara itu seperti suara langkah, langkah yang pasti bukan dari manusia. Tanpa menunggu lebih lama, Vector segera turun lewat lift itu. Pintu lift tertutup. Lampu di dalam lift berkedip-kedip. Tidak ada suara apapun selain suara loft yang sedang turun. Vector duduk karena saking lelahnya berjalan terus menerus. Rasanya sangat lama bagi lift untuk bergerak ke lantai dasar. Vector memandang mata Dipper yang sudah pucat itu. Sangat indah, pikirnya. Ia memeluk Dipper dengan sangat erat. Pelukannya ini memberikannya kepercayaan diri dan semangat dalam diri Vector. Lift akhirnua sampai di lantai dasar. Pintu terbuka dan menunjukkan pemandangan ruang penyimpanan yang gelap. Pemandangan ini lebih mengerikan dari yang lain. Meskipun demikian, Vector merasa lebih berani untuk menghadapi bahaya apapun yang akan dihadapinya. Digendongnya Dipper dan dibawanya masuk ke dalam ruang penyimpanan.
Ada suatu saklar lampu di dinding lorong. Dinyalakannya lampu lorong yang berakhir sampai 3 meter di depannya. Ruang penyimpanan itu benar-benar gelap. Sulit untuk melihat ke arah mana Ia harus pergi. Ia bingung harus menggunakan apa untuk melihat dalam kegelapan ini. Setelah dipikir-pikir, Ia ingat bahwa topengnya memiliki penglihatan malam. Ia menyalakan fitur ini untuk kebutuhannya. Lorong ruang penyimpanan tampil di layar topengnya. Vector bergerak perlahan memasuki ruang penyimpanan yang entah menyimpan apa di dalamnya.
Ruang penyimpanan itu memiliki suasana mencekam. Sunyi sekali di dalamnya. Yang terdengar hanyalah suara napas Vector dan langkah kakinya yang bergema. Ruangan penyimpanan memang sangat luas. Menyimpan banyak barang kebutuhan untuk kepentingan Yayasan. Setelah beberapa saat dalam kesunyian, Vector mendengar sesuatu yang lain. Ia mendengar suara tangisan seorang pria. Tangisan yang sangat Ia kenali. Suara itu berasal dari SCP-096. Seorang pria jangkung yang akan mengejar dan membunuhmu jika kau melihat wajahnya. Vector menelan ludah mengetahui bahwa ada SCP bersamanya. Untunglah topeng Vector sudah memiliki fitur SCRAMBLER yang akan melindunginya dari melihat wajah makhluk itu. Namun, bukan itu saja yang menemani Vector. Suara ikisan batu terdengar di sampingnya. Ya, sesuatu yang bersamanya adalah SCP-173. Vector berpikir, "Oh ya Tuhan, yang benar saja." Kombinasi antara patung yang harus kau lihat agar tidak membunuhmu dan pria yang akan membunuhmu jika kau melihat wajahnya adalah campuran yang paling buruk. Denah yang Ia bawa untung saja memiliki fitur pelacak SCP. Dengan mudah Ia dapat mengetahui di mana SCP yang bersamanya berada. Perlahan Ia mencari jalan keluar dari ruang penyimpanan itu. Setelah beberapa lama berjalan, Ia menabrak sesuatu. Ia menabrak SCP-096. Vector ingin berteriak tetapi tidak jadi karena Ia menabrak bagian belakangnya. Ia menghela napas lagi karena lega. Namun begitu, SCP-096 sedang dalam keadaan marah. Suara teriakan yang tertutup oleh tangannya membuat Vector sangat ketakutan. Ia berharap bahwa itu bukan karena ulahnya. Tanpa melihat wajahnya, Vector melihat patung berbentuk kacang di depannya. Ternyata SCP-173 sendiri yang membuat SCP-096 marah. Tiba-tiba SCP-096 mengejar patung kacang berwarna coklat itu. SCP-173 berlari secepat kilat dari hadapan pria jangkung yang hampir buta itu. Vector tertawa terbahak-bahak melihat skenario ini. Apakah SCP-173 dapat menghindari serangan SCP-096 atau sebaliknya? Apapun jawabannya, yang penting adalah Vector selamat. Vector akhirnya menemukan lift keluar dari ruang penyimpanan. Ia merasa senang karena bisa keluar dari tempat yang sangat buruk ini. Dimasukinya lift itu dan Ia tekan tombol naik. Pintu lift menutup. Vector merasa sangat bahagia karena pintu kebebasan sudah semakin dekat.
Sesampainya di atas, Vector keluar dari lift itu. Benar saja, checkpoint sudah ada di dekatnya. Ia akhirnya bisa keluar dari tempat ini. Ia masuk dan melewati checkpoint itu. Dipeluknya Dipper karena kebahagiaan Vector. Mereka melompat-lompat untuk keluar ke permukaan. Ketika Vector melewati suatu lorong, terdengar suatu langkah di belakangnya. Suatu sosok pria dengan paruh terlihat mendekati Vector dan kekasih barunya. Sosok itu adalah SCP-049. SCP itu mendekati Vector. Tentu saja Vector ketakutan. Tetapi SCP-049 berkata, “Janganlah takut, kau sudah aman.” Sudah? Mengapa bukan akan? Vector heran akan perkataan dokter itu. “Penyakit itu sudah hilang. Wabah itu sudah berakhir. Tugasku sudah selesai di sini,” lanjut sang dokter. SCP-049 lalu berjalan melewati Vector dengan santai. Vector tercengan dengan perkataan dokter pembunuh tersebut. Biasanya Ia berusah “menyembuhkan” orang dengan mengubah “pasiennya” menjadi mayat hidup. Entah apapun itu, Vector bersyukur karena Ia tidak menjadi salah satu zombie tersebut. SCP-049 mengajak Vector untuk ikut bersamanya. “Maukah kau ikut bersamaku? Mari kita keluar Bersama,” ajak SCP-049. Vector menuruti ajakan dokter tersebut. Bersama-sama mereka menuju permukaan.
Di permukaan, dilihatnya sinar matahari yang menembus jendela bangunan. Sinar itu memberikan sensasi ceria dan bersemangat. Semua SCP dan personil yang masih hidup berkumpul bersama dengan damai. Terlihat SCP-682 yang berbincang dengan peneliti dengan santai. Kadal yang dikenal sebagai misantropis itu tidak pernah sebaik itu. D-Class juga diperlakukan layaknya manusia oleh personil level tinggi lainnya. Memang mengherankan bagi Vector yang baru saja keluar dari reruntuhan. Para SCP dan personil menyambut kedatangan sang dokter dan Vector dengan senang. Mereka terlihat suportif dan baik hati kepada mereka. Vector meneteskan air mata kebahagiaan dari pemandangan ini. Bersama-sama, mereka keluar dari bangunan tersebut.
Terlihat bukit-bukit dan lapangan luas yang ditutupi oleh berbagai bunga. Bunga ini terlihat membahagiakan. Sinar matahari yang hangat menyinari pemandangan tersebut. Semua makhluk hidup bermain-main dan bersantai di daerah itu. Sementara itu, Vector dan Dipper pergi ke suatu bukit. Mereka duduk bersama, memandangi pemandangan yang menenangkan. Rasanya seperti seluruh kekerasan dan kejahatan di dunia telah dihapuskan. Vector menghela napas karena merasa puas. Perjuangannya tidaklah sia-sia. Ia dan mayat Dipper memandang ke cakrawala, menyaksikan terbenamnya matahari.
EPILOG
Vector terbangun dalam kegelapan. Ia melihat seorang pria dalam jas biru di depannya. Pria itu menghampiri Vector dan berkata, "Cock and ball torture, Vector?" Mendegar perkataannya, Vector merasakan sakit yang mahadahsyat di kelaminnya. Ternyata, Vector telah pingsan selama ini. Dipper berada di sampingnya, tergeletak tanpa kesadaran. Semua itu hanyalah mimpi karena mereka tidak bisa menahan Ball Stretcher. Vector dan Dipper akhirnya berhenti melakukan CBT.






Per 


